Melancong Ke Singapura Wajib Gunakan Gelang Pintar Berbasis GPS

Auto Tekno01 September 2020

By admin2

Melancong Ke Singapura Wajib Gunakan Gelang Pintar Berbasis GPS

Menyusul kehidupan normal baru, kini beberapa negara telah membuka kembali wilayah mereka untuk pendatang. Salah satunya Singapura yang kembali menerima turis, migran, pekerja, maupun warna negara – yang sebelumnya tertahan di negara lain akibat transportasi lintas negara ditutup.

Pihak berwenang Singapura telah menerapkan sistem karantina baru untuk siapa saja yang memasuki wilayah mereka. Melalui sistem ini, setiap pendatang dapat melakukan karantina mandiri tanpa harus menginap di fasilitas khusus selama 14 hari. Ini dapat dilakukan di rumah, maupun tempat tinggal yang mereka pilih setelah melapor ke imigrasi Singapura.

Untuk menjamin efektivitasnya, Kementerian Tenaga Kerja (MOM) serta Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) telah menyediakan alat khusus yang harus digunakan selama 14 hari. Diterapkan sejak 11 Agustus, kini setiap pendatang akan menerima wristband serupa jam tangan atau gelang pintar – serta ‘gateway device’ yang saling terhubung satu sama lain sebagai monitor.

Asiaone menjelaskan, baik perangkat ICA maupun MOM keduanya memiliki sistem kerja yang sama. Mereka dilengkapi dengan sistem GPS dan jaringan 4G atau bluetooth. Perbedaannya, perangkat ICA memerlukan ‘gateway device’ dan aplikasi lain untuk terhubung dengan wristband. Sedangkan wristband milik MOM tidak memerlukannya.

Disampaikan Channel News Asia, meski dilengkapi GPS, perangkat ini diklaim sebagai alat yang aman untuk digunakan. Keduanya tidak akan merekam suara maupun video. Selain itu, data pribadi pengguna (GPS) akan dienkripsi dan hanya dapat diakses oleh pejabat pemerintah. Itu pun hanya dapat digunakan untuk pemantauan dan investigasi jika diperlukan.

Sementara itu terkait sistem kerjanya, perangkat ICA akan melacak pengguna melalui radius antara GPS dan Bluetooth dari kedua perangkat. Sedangkan MOM akan melacak dari GPS dan jaringan 4G. Sehingga, ketika pengguna keluar dari tempat tinggal mereka – atau di luar radius tertentu – secara ototatis perangkat akan mengirim pemberitahuan kepada pihak berwenang bahwa pelanggaran karantina telah dilakukan.

Setiap pelanggaran nantinya akan diberikan hukuman berupa denda sebesar SGD10.000 dan hukuman penjara hingga enam bulan. Untuk pendatang, mereka akan dikenakan hukuman lanjutan berupa pemotongan validitas izin menetap maupun izin kerja di Singapura.

Hukuman juga akan berlaku untuk mereka yang dengan paksa melepas perangkat maupun merusaknya sebelum waktu karantina 14 hari berakhir.

Channel News Asia menyampaikan, selama karantina setiap pendatang hanya dapat berpergian ketika hendak melakukan swab test Covid-19. Karena test ini merupakan keharusan dari rangkaian karantina mandiri yang dilakukan. Ini harus diambil sebelum masa karantina berakhir. Namun selebihnya, mereka harus benar-benar tinggal di dalam rumah.

Baca juga: Sejarah Singkat Mengenai Perkembangan Komputer

Penggunaan teknologi untuk mencegah persebaran Covid-19 sebenarnya bukan hal baru. Terutama di Singapura, pemerintah sebelumnya telah menggunakan teknologi Big Data dalam physical distancing. Sementara itu, pada 18 Mei MOM telah meluncurkan aplikasi ponsel bernama FWMOMCare untuk memantau kesehatan pekerja.

Penggunaan teknologi dikatakan sebagai solusi yang cukup efektif dan murah. Dikutip Asianone, pejabat senior pemerintah Singapura mengklaim bahwa penggunaan teknologi dalam pencegahan Covid-19 dapat menghemat sumber daya maupun tenaga. Lebih tepatnya, segala pemantauan dapat dilakukan jarak jauh menggunakan teks maupun panggilan telepon dan video serta teknologi dapat digunakan secara berulang.