Aplikasi Media Sosial Buatan Lokal Kurang Populer, Ini Kata Pengamat

Auto Tekno09 July 2020

By admin2

Aplikasi Media Sosial Buatan Lokal Kurang Populer, Ini Kata Pengamat

 Aplikasi media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp hingga Twitter menjadi aplikasi yang biasa dipakai sehari-hari. Developer lokal juga mengembangkan aplikasi serupa, namun tampaknya sulit bersaing dengan raksasa aplikasi tersebut.

Dikutip Sindonews, menurut pengamat media sosial, Enda Nasution, sebuah aplikasi lokal tidak bisa hanya mengandalkan sekadar nasionalisme, tapi juga membutuhkan sebuah basis pengguna untuk bisa berkembang.

"Saya dulu ngembangin 'Sebangsa', sudah setengah mati, fitur sudah lengkap, tumbuhlah 50.000 user, tapi kalau dibandingkan Facebook 5 miliar user (berat)," kata Enda kepada SINDOnews, Rabu (8/7/2020).

Dikatakan Enda, kuncinya tak bisa sekadar mengandalkan 'oh ini buatan Indonesia'. "Engga bisa mengandalkan hanya nasionalisme. Ini buatan indonesia dipake gitu, tidak bisa sekadar itu," sambungnya.

Syarat lainnya, lanjut dia, sebuah aplikasi, pengembang harus memiliki killer features. Pria yang juga pegiat media sosial ini menjelaskan, killer features merupakan sesuatu yang cuma ada di dalam aplikasi yang kita bangun dan memang diinginkan oleh user.

Enda menegaskan, killer features tidak perlu sesuatu yang canggih tapi setidaknya memiliki daya tarik unik. Dia mencontohkan pada aplikasi Path saat pertama kali muncul, di mana hanya menawarkan sedikit teman. Tapi lama kelamaan semakin berkembang dan Path menjadi aplikasi terbuka yang akhirnya malah ditinggalkan.

Selain itu, jumlah pengembang atau developer juga dibutuhkan jika ingin melawan para raksasa media sosial yang sudah ada.

"Saya dulu ngembangin 'Sebangsa' hanya 50 developer, Facebook mengembangkan sosmed minimal 5.000 developer. Kita melawan raksasa, kita berada dalam medan perang yang sama, kalau tak punya killer features, itu tadi sesuatu yang mereka enggak kepikir sebelumnya," katanya lagi.

Sumber